Jumat, 16 Mei 2008

KATA BAKU,TIDAK BAKU DAN SERAPAN

Kata Baku adalah kata-kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa yang tidak mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku. Pembakuan kata­ kata juga berlaku untuk istilah dan kata serapan (kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah) bunyi dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Fungsi bahasa baku adalah sebagai pemersatu, fungsi pemberi kekhasan, fungsi pembawa kewibawaan, dan fungsi sebagai kerangka acuan. Dalam kenyataannya bahasa baku tidak dapat dipergunakan dalam segala situasi. Dengan demikian, bahasa baku hanya dapat dipergunakan dalam situasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum (formal), dan pembicaraan dengan orang yang dihormati.

Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah:

1. kemantapan dinamis

Kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.

2. kecendikian

Wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.

3. keseragaman kaidah

Kebakuan bahasa bukan penyarnaan ragam bahasa, melainkan penyamaan kaidah.

Contoh :

No.

Kata Baku

Kata Tidak Baku

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

apotek

atlet

praktik

nasihat

misi

sistem

terampil

hierarki

kedelai

ekstra

apotik

atlit

praktek

nasehat

missi

sistim

trampil

hirarki

kedele

ektra, extra

serapan

serapan

serapan

serapan

KALIMAT UTAMA DAN KALIMAT PENJELAS

Kalimat utama adalah kalimat di dalam paragraf yang mengungkapkan pikiran utama. Kalimat ini berisi masalah atau kesimpulan sebuah paragraf. Berdasarkan letak kalimat utamanya paragraf dibagi tiga, yaitu :

1. Paragraf Deduktif

a. Letak kalimat utama di awal paragraf

b. Dimulai dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

2. Paragraf Induktif

a. Letak kalimat utama di akhir paragraf

b. Diawali dengan uraian atau penjelasan dan diakhiri dengan pernyataan umum

3. Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif)

a. Letak kalimat utama di awal dan di akhir paragraf

b. Kalimat utama yang terletak di akhir bersifat penegasan kembali dengan susunan kalimat yang berbeda.

Kalimat penjelas ialah kalimat yang berisi penjelasan terhadap hal yang dinyatakan dalam kalimat utama atau berisi hal-hal yang bersifat khusus. Kalimat ini merupakan bagian dari paragraf atau alinea yang berisi pikiran penjelas.

KATA ULANG

Proses pengulangan (reduplikasi) adalah pengulangan satuan gramatik atau suatu bentuk kata, baik seluruhnya maupun sebagian baik disertai variasi fonem maupun tidak. Hasil proses pengulangan adalah kata ulang.

1. Prinsip Dasar Pengulangan

a. Selalu mempunyai dasar yang diulang.

b. Pengulangan tidak akan mengubah jenis (kelas kata).

Contoh :

Rumah-rumah (KB) : bentuk dasarnya rumah (KB)

c. Bentuk dasar dan pengulangan itu selalu berupa satuan yang bersifat gramatis artinya selalu berupa satuan kebahasaan yang terdapat dalam penggunaan bahasa.

Contoh :

Kekanak-kanakan bentuk dasarnya kekanakan bukan kekanak

2. Macam-macam Kata Ulang

a. Kata Ulang Seluruhnya (penuh atau dwilingga)

Kata ulang seluruhnya adalah pengulangan seluruh bentuk dasar tanpa perubahan fonem dan tidak berkom­binasi dengan proses pembubuhan afiks. Hasilnya kata ulang sempurna.

Contoh:

buku-buku

b. Kata Ulang Sebagian

Kata ulang sebagian adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya.

Contoh:

menulis-nulis : bentuk dasarnya menulis

c. Kata Ulang Berimbuhan (pembubuhan afiks)

Kata ulang berimbuhan adalah pengulangan yang terjadi bersama-sama dengan pembubuhan afiks dan sekaligus secara bersama-sama membentuk satu fungsi. Dengan kata lain, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkom­binasi dengan proses pembubuhan afiks.

Contoh :

kereta → kereta-kereta → kereta-­keretaan

d. Kata Ulang dengan Perubahan Fonem (berubah bunyi atau dwi lingga salin suara)

Kata ulang berubah bunyi adalah pengulangan yang salah satu unsur yang diulang itu berubah bunyi.

Contoh :

Gerak-gerik → kata ulang berubah bunyi vokal

e. Kata Ulang Dwipurwa (pengulangan atas suku kata awal)

Bentuk ulang ini vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e (pepet).

Contoh :

tanam-tanaman → tatanaman → tetanaman

3. Makna Kata Ulang

a. menyatakan banyak tak tentu

Contoh : Sapi-sapi di kandang itu sedang diberi makan.

b. menyatakan banyak dan bermacam-macam

Contoh : Membeli buah-buahan di pasar harganya lebih murah.

c. menyatakan menyerupai

Contoh : Daffa senang bermain mobil-mobilan dari balok kayu.

d. menyatakan agak (melemahkan)

Contoh :Walaupun sudah dewasa, orang itu masih kekanak-kanakan.

e. menyatakan intensitas

Contoh: Pukullah dia kuat-kuat ( intensitas kualitatif)

f. menyatakan resiprokal

Contoh : Kedua anak itu sedang berkejar-kelaran di taman.

g. menyatakan anti seperti pada bentuk dasamya (hal)

Contoh : SMKK I Yogyakarta menyelenggarakan kursus masak-memasak untuk remaja.

h. menyatakan perbuatan seenaknya

Contoh : Lelaki itu santai-santai di beranda rumahnya.

i. menyatakan paling (superlatif)

Contoh : Untuk dapat dicacat MURI, wanga Kaliurang membuat ‘Wajik’ sebesar-besarnya.

j. menyatakan kumpulan

Contoh : Kerjakan tugas ini secana kelompok, masing­-masing anak lima-lima.

k. menyatakan walaupun

Contoh : Panas-panas begini, dia tetap bertahan.

l. menyatakan selalu

Contoh : Mereka-mereka memang tidak dapat diharapkan.

KATA PENGHUBUNG

Kata penghubung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klausa, antar kalimat, dan antar paragraf. Kata penghubung antar klausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antar kalimat di awal kalimat (setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya), dan kata penghubung antar paragraf letaknya di awal paragraf

Macam-macam kata penghubung dan fungsinya :

1. Kata Penghubung Aditif (gabungan)

Kata Penghubung aditif (gabungan) adalah konjungsi koordinatif yang berfungsi menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat dalam kedudukan yang sederajat, misalnya : dan, lagi, lagi pula, dan serta.

2. Kata Penghubung Pertentangan

Kata penghubung pertentangan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat dengan mempententangkan kedua bagian tersebut. Biasanya bagian yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada yang pertama, misalnya : tetapi, akan tetapi, melainkan, sebaliknya, sedangkan, padahal, dan namun.

3. Kata Penghubung Disjungtif (pilihan)

Kata penghubung pilihan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang sederajat dengan memilih salah satu dari dua hal atau lebih, misalnya: atau, atau....atau, maupun, baik...baik..., dan entah...entah...

4. Kata Penghubung Temporal (waktu)

Kata penghubung temporal menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata konjungsi temporal berikut ini menjelaskan hubungan yang tidak sederajat, misalnya : apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semwnjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, dan tatkala. Sementana konjungsi berikut ini menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat, misalnya sebelumnya dan sesudahnya.

5. Kata Penghubung Final (tujuan)

Konjungsi tujuan adalah semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu penistiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar.

6. Kata Penghubung Sebab (kausal)

Konjungsi sebab menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena, dan karena itu.

7. Kata Penghubung Akibat (konsekutif)

Konjungsi akibat menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.

8. Kata Penghubung Syarat (kondisional)

Konjungsi syarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi bila syarat-syarat yang disebutkan itu dipenuhi. Kata­ kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.

9. Kata Penghubung Tak Bersyarat

Kata penghubung tak bersyarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa perlu ada syarat-syarat yang dipenuhi. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah walaupun, meskipun, dan biarpun.

10. Kata Penghubung Perbandingan

Kata penghubung perbandingan berfungsi menghubung­kan dua hal dengan cara membandingkan kedua hal itu. Kata­ kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat, umpama, dan daripada.

11. Kata Penghubung Korelatif

Konjungsi korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga yang satu langsung mempenganuhi yang lain atau yang satu melengkapi yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kedua kalimat mempunyai hubungan timbal-balik. Kata-kata yang yang menyatakan konjungsi ini adalah semakin ….. . semakin, kian .. . kian...,bertambah ... bertambah . . , tidak hanya…….,tetapi juga..., sedemikian rupa..., sehingga..., baik..., dan maupun.

12. Kata Penghubung Penegas (menguatkan atau intensifikasi)

Konjungsi ini berfungsi untuk menegaskan atau meningkas suatu bagian kalimat yang telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang menyatakan rincian. Kata-kata yang tenmasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan, apalagi, yakni, yaitu, umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya.

13. Kata Penghubung Penjelas (penetap)

Konjungsi penjelas berfungsi menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan perinciannya. Contoh kata dalam konjungsi ini adalah bahwa.

14. Kata Penghubung Pembenaran (konsesif)

Konjungsi pembenaran adalah konjungsi subondinatif yang menghubungkan dua hal dengan cara membenarkan atau mengakui suatu hal, sementara menolak hal yang lain yang ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenanan dinyatakan dalam klausa utama (induk kalimat), sementara penolakan dinyatakan dalam anak kalimat yang didahului oleh konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun, kendatipun, dan sekalipun.

15. Kata Penghubung Urutan

Konjungsi ini menyatakan urutan sesuatu hal. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah mula-mula, lalu, dan kemudian.

16. Kata Penghubung Pembatasan

Kata penghubung ini menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana perbuatan dapat dikerjakan, misalnya kecuali, selain, dan asal.

17. Kata Penghubung Penanda

Kata penghubung ini menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-kata yang ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan. Contoh kata-kata konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.

18. Kata Penghubung Situasi

Kata penghubung situasi menjelaskan suatu perbuatan terjadi atau berlangsung dalam keadaan tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang, sedangkan, padahal, dan sambil.

IMBUHAN

Dalam Bahasa Indonesia imbuhan merupakan unsur yang penting karena imbuhan dapat mengakibatkan perubahan jenis kata, bentuk kata, dan makna kata.

Perhatikan peristiwa di bawah ini :

Contoh kata

makan

makanan

Jenis kata

KK

KB

Makna

Proses

Sesuatu yang di

Bentuk

Kata dasar

Kata

Berikut ini akan diuraikan beberapa imbuhan dalam bahasa Indonesia :

1. Imbuhan ter­-

Imbuhan ter­- mempunyai bentuk ter­-, te-, dan tel- Perubahan yang demikian terjadi akibat adanya proses morfofonemik yang mengenai pada imbuhan tersebut. Imbuhan ter- membentuk kata kerja dan kata sifat.

Contoh

1) ter- + besar → terbesar: ter-tetap menjadi ter-

2) ter- + rasa → terasa : ter-berubah menjadi te­-

3) ter- + lanjur → telanjur : ter-berubah menjadi te

­Makna imbuhan ter- yaitu :

a. menyatakan aspek Perfektif, yaitu suatu perbuatan telah selesai

Contoh : tercetak, tersiar, terikat, tercatat, dan sebagainya.

b. menyatakan aspek kontinuitas, yaitu suatu perbuatan tengah atau terus berlangsung.

Contoh : terbayang, terapung, terpasang, dan sebagainya.

c. menyatakan aspek spontanitas, yaitu perbuatan tiba-tiba atau tidak disengaja.

Contoh : terperosok, terbangun, tertidur, teringat, dan sebagainya.

d. menyatakan intensitas atau nepetitif, yaitu perbuatan. berulang-ulang.

Contoh : terbayang-bayang, terangan-angan, dan sebagainya.

e. menyatakan aspek potensialis, yaitu dapat di­

Contoh: terangkat, terusung, terbawa, dan sebagainya.

f. menyatakan superlatif, yaitu paling.

Contor : tertinggi, terkecil, tercantik, terbaik, dan sebagainya.

2. Imbuhan me-kan

Imbuhan me-kan benfungsi membentuk kata kerja.

Makna imbuhan me-kan yaitu:

a. menyatakan kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya proses.

Contoh: meninggikan, merendahkan, menetnalkan, dan sebagainya.

b. menjadikan sebagai atau menganggap sebagai

Contoh : memperhambakan, memperbudakkan dan sebagainya.

c. menyatakan intensitas, yaitu mengenaskan arti yang disebut dalam kata dasar, dapat pula berarti menyuruh.

Contoh : memperebutkan, mempendengarkan, mempentahankan, memperundingkan, dan sebagainya.

3. Imbuhan per-an

Imbuhan per-an benfungsi sebagai pembentuk kata benda. Kata berimbuhan per-an merupakan hasil nominalisasi dari kata kerja yang sejalan dengan kata kerja bentuk ber- -an, kata kerja bentuk memper-(-kan, -i). Misalnya : perkenalan sejalan dengan berkenalan. Kesejalanan itu dapat dilihat dalam kalimat berikut ini : Aku berkenalan dengan dia. Perkenalanku dengan dia tidak kuduga sebelumnya.

Makna imbuhan per-an adalah

a. menyatakan hal atau perihal

Contoh persekolahan, pergedungan, perindustrian, dan sebagainya.

b. menyatakan hasil

Contoh pernafasan, perbudakan. persahabatan, dan sebagainya.

c. menyatakan tempat

Contoh perhentian, peristirahatan, pertapaan, dan sebagainya

d. menyatakan daerah

Contoh perkampungan, perkotaan, pertokoan, dan sebagainya.

e. menyatakan berbagai-bagai

Contoh persyaratan, perbekalan, dan sebagainya.

4. Imbuhan senapan -i -iah,-wi, -is, -isme, if , al, -isasi

Imbuhan mi merupakan senapan dan bahasa asing. Imbuhan serapan tersebut pada umumnya benfungsi sebagai pembentuk kata benda dan kata sifat. Makna yang umum untuk menandai kata sifat adalah mempunyai sifat atau ciri, misalnya legal, universal, sportif aktif egois. Sebaliknya -isme mengandung makna paham, misalnya nasionalisme, komunisme, dan seterusnya.

Sufiks -tas menyatakan makna hal, misalnya kriminalitas, aktivitas, kreativitas. Sedangkan -isasi menyatakan proses, misalnya : proklamasi, nasalisasi, afiksasi. Sufiks -i, -iah, -wi menyatakan makna yang bersangkutan dengan, misalnya ; gerejani, surgawi, alarmiah.

5. Imbuhan asing : anti-, pro-, eks-, pra-, swa-, intra-, trans-, non-

Imbuhan asing : anti-, pro-,eks-, pra-, swa-, intra-, trans-, non ­Imbuhan asing adalah suatu alat bahasa yang merupakan bagian kalimat yang bersifat efektif (menyatakan perasaan) berupa morfem setengah bebas atau morfem terikat yang berasal dari bahasa asing. Imbuhan asing ini selalu melekat pada awal kata dasar yang menyertainya.

Contoh : antiseptik, proposal, ekspresif, praoperasi, swadaya, intransitif, transportasi, nonblok.

FRASE

Frase adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat (S, P, O, Pel., dan K).

Contoh :

Berdasankan unsur intinya, frase dibedakan menjadi :

a. Frase Endosentris

1) Frase endosentris koondinatif, yaitu frase yang unsur ­unsurnya setara atau sederajat.

Contoh : Ayah dan ibu sedang pergi.

2) Frase endosentris atributif, yaitu frase yang mempunyai unsur pusat dan unsur atribut.

Contoh : Sepatu saya hilang.

3) Frase endosentris apositif, yaitu frase yang memiliki unsur pusat dan unsur aposisi.

Contoh : Sarijah anak Pak Lurah cantik sekali.

b. Frase eksosentris, yaitu fase yang tidak memiliki unsur pusat.

Contoh : Anak-anak itu sedang bermain di halaman.

Selain itu, frase dapat pula diperluas dengan kata ‘yang’. Frase seperti ini akan membentuk klausa.

Contoh : Buku yang tebal itu kepunyaanku.

Selain jenis frase di atas, dikenal pula frase ambigu dan frase atributif berimbuhan. Frase ambigu adalah frase yang bermakna ganda atau memiliki makna lebih dari satu.

Contoh : kambing hitam, orang tua, meja hijau.

Frase atributif berimbuhan adalah frase yang unsur perluasannya berimbuhan.

Contoh : Adik tidak berani berjalan melalui tangga berjalan.

KALIMAT AKTIF DAN PASIF

1. Kalimat Aktif

Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu tindakan dan predikatnya menunjukkan perbuatan. Kalimat jenis ini subjeknya menjadi agens (pelaku).

Contoh : Petani sedang mencangkul di sawah.

Kalimat aktif dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Kalimat aktif transitif

Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang predikatnya tidak memerlukan objek sebagai sesuatu kelengkapan. Kalimat jenis ini predikatnya kata kerja transitif, yakni menghendaki objek.

Contoh : Bagus menulis surat.

b. Kalimat aktif intransitif

Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang predikatnya tidak memerlukan objek sebab implisit dalam predikatnya. Kalimat jenis ini predikatnya intransitif yakni tidak menghendaki objek.

Contoh : Paman merokok.

2. Kalimat Pasif

Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai suatu perbuatan. Kalimat jenis ini subjeknya menjadi patient (penderita).

Contoh : Sawah dicangkul petani.

Selain menggunakan kata kerja berimbuhan di-, kalimat pasif juga dapat menggunakan kata kerja berimbuhan ten-, ke-an, dan bentuk diri (pensona atau pelaku). Berikut ini penjelasan dan contohnya:

a. Bentuk kalimat pasif dengan kata kerja berimbuhan ter-

­Contoh : Tentara itu tertembak kakinya.

b. Bentuk kalimat pasif dengan kata kerja berimbuhan ke­-an

Contoh : Pendaki itu kehabisan bekal.

c. Bentuk kalimat pasif dengan bentuk diri (persona).

Contoh: Coba kau lihat bunga ini.